Pengenalan
Ajaran & Filsafat
Kitab Suci
Dewa Dewi
Upacara & Ritual
Cabang Ilmu
Tempat Bersejarah
Tetesan
Goresan Pena
Tanya Jawab
Galeri

 
  Pengumuman
Diskusi Tao
Obrolan Bebas
Saran & Kritik

 
  Tempat Diskusi
Berita Gratis
Promosi
Link ke Kami
Sindikasi
Kanal
Bertukar Link
Links

 
  Bahasa Inggris
Forums Komunitas
Intan Dalam Debu
Kelenteng
Milis
Muditao
Tao-TSM

 
  Kerahasiaan
Pelayanan
Penghargaan
Sertifikat
Suara Anda
Tentang Kami
Hubungi Kami

 
  Dapatkan informasi terbaru langsung pada email Anda!

   Halaman Depan > Dewa Dewi > Ba Xian >
 
Zhang Guolao dan Keledai Kertas
 
Oleh: Cinthia
 
Dalam pengembaraannya, Zhang Guolao mengendarai seekor keledai sambil menghadap ke belakang.
 
Keledai itu tidak perlu diberi makan atau minum. Jika malam tiba, keledai itu berubah menjadi keledai kertas. Esok harinya, keledai itu akan muncul lagi.
 
Keledai itu semula adalah seekor keledai biasa.
 
Pada suatu hari, saat Zhang sedang mengembara dan menuju Gunung Hua, Huashan, di tengah perjalanan badai turun dengan lebatnya.
 
Zhang tidak mau memakai topi atau payung, tetapi badannya tidak basah sedikit pun, padahal ia telah berjalan 4 mil.
 
Pada saat tiba di Lembah Persik, yang berada di sebelah barat Huashan, ia melihat sebuah kuil.
 
Zhang pernah mendengar bahwa kuil tersebut sangat berisik karena terlalu banyak penghuninya. Oleh karena itu, Zhang memilih tinggal di sebuah gua di kaki gunung.
 
Ketika matahari terbenam, Zhang Guolao mulai merasa lapar. Dari kejauhan terdengar suara lonceng tanda makan malam di kuil.
 
Zhang lalu pergi ke kuil untuk makan malam.
 
Kepala kuil menyambut Zhang dan mempersilahkan Zhang menyantap hidangan.
 
Zhang Guolao makan enam mangkok makanan dengan lahapnya.
 
Dengan maksud menguji para pendeta, setelah selesai makan, Zhang langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
 
Zhang selalu muncul pada saat makan tiba. Selalu makan banyak dan langsung pergi setelah selesai makan.
 
Lama kelamaan, para pendeta muda mulai tidak menyukai kehadiran tamu itu.
 
Mereka membuat rencana menghadapi Zhang dengan tidak akan membunyikan lonceng pada waktu makan malam, melainkan memukul ikan-kayu sebagai gantinya.
 
Namun siasat itu tidak berhasil, Zhang Guolao tetap saja muncul untuk makan lalu pergi begitu saja.
 
Para pendeta muda tidak mau lagi menerima kedatangan Zhang dan bermaksud menyingkirkan Zhang dari Lembah Persik, sehingga membuat sebuah rencana jahat.
 
Pada suatu hari Zhang Guolao datang seperti biasa untuk makan. Sesudah makan ia berbincang-bincang dengan kepala kuil mengenai Kitab Suci.
 
Tanpa sepengetahuan kepala kuil, para pendeta muda pergi ke belakang kuil dan membunuh keledai milik Zhang.
 
Mereka juga membongkar jembatan yang dipakai Zhang Guolao untuk menyeberang ke kuil.
 
Setelah Zhang memohon diri kepada kepala kuil, ia melihat keledainya telah dibunuh.
 
Zhang sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum ke arah para pendeta muda yang sedang bersembunyi.
 
Ia menepuk kepala keledainya dan berkata, "Bangun!" Keledai itu pun hidup lagi.
 
Kemudian Zhang menunggangi keledainya, dan pada saat tiba di sungai dilihatnya jembatan sudah tidak ada lagi.
 
Zhang melempar tabung bambunya ke sungai dan berseru, "Tumbuh!" Dalam sekejap saja tabung bambu itu berubah menjadi sebuah jembatan dan Zhang Guolao menyeberang dengan keledainya.
 
Para pendeta muda sangat terkejut dan malu atas apa yang telah mereka lakukan.
 
Mereka mengaku salah dan memohon agar Zhang bersedia mengampuni mereka.
 
Zhang menjawab sambil tersenyum, "Bertobat itu sangat bijaksana."
 
Setelah tiba di gua, Zhang, yang telah menganggap keledainya telah mati, memotong-motong kulit keledainya menjadi potongan-potongan kecil dan menaburkannya ke tanah. Tidak lama kemudian tumbuh tunas tanaman yang disebut sebagai tanaman daging-keledai.
 
Zhang kemudian menggambar seekor keledai di sehelai kertas. Setelah digunting, Zhang meniup guntingan tersebut, jadilah seekor keledai.
 
Sejak saat itu, keledai kertas itu menjadi binatang tunggangan Zhang Guolao.
 
  
 
 
Kerahasiaan - Pernyataan Pelayanan - Tentang Kami - Hubungi Kami
Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi halaman ini tanpa ijin dari SiuTao dan mencantumkan SiuTao (http://www.siutao.com) sebagai sumber.
Copyright © 2000 - 2008 SiuTao. All rights reserved.