|
|
Halaman Depan > Dewa Dewi > Ba Xian > Pagoda Bangau Kuning Oleh: Cinthia Di Gunung Ular, yang bersebelahan dengan sebuah sungai di Wuchang, tinggallah seorang janda baik hati dan rajin bekerja yang memiliki sebuah kedai arak kecil, Zhang namanya. Dia memiliki seorang anak laki-laki berumur 5 tahun. Karena jauh dari keramaian, tidak ada satu orang pun yang datang membeli araknya sejak tiga hari kedai tersebut dibuka. Pada senja hari, ketika pemilik kedai itu sedang cemas, datanglah seorang pendeta Tao yang sudah tua. Pendeta itu memesan satu guci arak dan dalam sekejap meminumnya hingga habis. Ketika Zhang akan meminta bayaran, dilihatnya sang tamu sedang mabuk dan tertidur di lantai. Karena merasa kasihan dan takut sang tamu masuk angin, Zhang menutupi sang tamu dengan selimut dan memberinya bantal. Ketika pendeta itu bangun keesokan harinya, Zhang meminta bayaran, namun pendeta tersebut mengatakan bahwa dirinya ingin minum arak lagi karena arak di kedai Zhang memiliki mutu yang baik. Janda tersebut memberinya satu guci arak yang langsung diminum oleh sang pendeta dalam sekejap. Dalam mabuknya, sang pendeta tertidur lagi. Pada hari ke-3, sang pendeta meminum satu guci arak lagi. Seperti hari-hari sebelumnya, dia mabuk lagi dan tertidur di kedai tersebut. Karena sang pendeta adalah satu-satunya tamu dan perdagangan sedang sepi, Zhang tidak merisaukan perbuatan pendeta itu. Pada hari ke-4 Zhang meminta tamunya menyelesaikan pembayaran, namun sang tamu menjawab bahwa dirinya tidak memiliki uang satu keping pun. Zhang merasa kasihan kepada sang pendeta dan membiarkannya pergi. Namun sang pendeta merasa tidak enak dan mengatakan bahwa dirinya mahir melukis. Lalu dilukisnya dua ekor bangau kuning di dinding kedai sebagai bayaran. Kemudian sang pendeta mengeluarkan sebatang seruling dan meniupnya sambil menghadap gambar bangau. Tiba-tiba burung-burung bangau tersebut menjadi hidup dan mulai menari mengikuti irama seruling. Kabar kejadian tersebut langsung tersiar dengan cepat ke seluruh penduduk di kaki Gunung Ular. Banyak orang berdatangan ke kedai Zhang untuk melihat bangau menari sehingga usaha dagang Zhang menjadi maju. Sang pendeta ternyata adalah Lu Dongbin. Pada saat Lu sedang melakukan pengembaraan disekitar Gunung Ular, dilihatnya kedai arak Zhang yang sepi pengunjung. Karena dia mengetahui bahwa Zhang adalah seorang yang baik hati dan rajin bekerja, maka Lu berniat menolong Zhang. Setelah usaha kedai Zhang lancar, Lu memberikan serulingnya kepada Zhang. Kemudian Lu pergi melanjutkan pengembaraannya. Ketika hakim daerah mendengar kejadian "bangau menari" tersebut, ia pun datang bersama pengikut-pengikutnya. Ketika Zhang memainkan serulingnya, kedua bangau di dinding turun dan mulai menari dengan indahnya. Sesampainya di rumah, hakim yang serakah itu ingin memiliki gambar ajaib Zhang. Penasihat hukum sang hakim mengusulkan sebuah rencana jahat. Pada keesokan harinya, penasihat hukum sang hakim datang ke kedai Zhang bersama beberapa pegawai pengadilan dan seorang pemahat. Ia meminta Zhang membayar pajak sebesar 100 tail perak. Karena sang janda tidak dapat membayar pajak sebesar itu, penasihat tersebut menyuruh sang pemahat mengambil gambar bangau di dinding dan seruling Zhang sebagai penggantinya. Hakim menyuruh sang pemahat memasang gambar bangau itu di dinding dalam ruang tengahnya. Lalu sang hakim mengundang para pejabat dan orang-orang tingkat atas untuk menyaksikan bangau menari. Meskipun telah berulang-ulang sang penasihat hukum memainkan seruling, tetapi gambar burung di dinding tetaplah gambar burung di dinding. Dengan penuh kemarahan, sang hakim memerintahkan orang-orangnya membawa Zhang ke rumahnya untuk bermain seruling. Dengan air mata berlinang, Zhang mematuhi perintah sang hakim. Namun gambar bangau tetap gambar bangau. Hakim menuduh Zhang sengaja melawan perintah, lalu memerintahkan petugas pengadilan menyiksa Zhang. Tiba-tiba seorang berseru dari luar rumah, "Hentikan!" Orang itu dengan tenangnya masuk ke dalam rumah sang hakim, ternyata dia adalah Lu Dongbin. Sang tamu yang tidak diundang meminta sang hakim melepaskan Zhang dan mengatakan bahwa dirinya dapat membuat bangau-bangau itu menari. Setelah sang hakim mengetahui bahwa tamu yang datang adalah pendeta Tao yang melukis bangau-bangau tersebut, ia melepaskan Zhang. Ketika Lu memainkan serulingnya, bangau-bangau di dinding melompat dan mulai menari. Hakim dan tamu-tamunya sangat gembira menyaksikan hal tersebut. Lu lalu menunggangi salah satu bangau dan ikut menari. Ketika para penonton sedang bersorak-sorak dengan gembira, kedua bangau itu memekik dengan keras dan langsung terbang ke angkasa membawa Lu. Para penonton terkejut dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika sang hakim melihat dinding, ternyata hanya merupakan dinding kosong. Untuk memperingati Lu Dongbin, orang-orang kemudian membangun sebuah pagoda di dekat kedai arak Zhang. Pagoda itu diberi nama "Pagoda Bangau Kuning". |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kerahasiaan - Pernyataan Pelayanan - Tentang Kami - Hubungi Kami Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi halaman ini tanpa ijin dari SiuTao dan mencantumkan SiuTao (http://www.siutao.com) sebagai sumber. Copyright © 2000 - 2008 SiuTao. All rights reserved. |