|
|
Halaman Depan > Dewa Dewi > Ba Xian > Kuil Guolao Oleh: Cinthia Zhang Guolao berasal dari keluarga miskin dan ia hidup dari mengangkut barang-barang dengan keledainya. Di hari tuanya, Zhang tetap bekerja, melawan angin dan hujan setiap hari. Hidup Zhang sungguh menderita. Suatu sore, bersama keledainya, Zhang tiba di sebuah kuil tua untuk beristirahat. Zhang Guolao hanya memiliki sedikit makanan, dan berniat untuk menyimpannya hingga makan malam hari. Baru saja ia akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba tercium aroma sedap dari dalam kuil. Orang tua yang lapar itu menghentikan keledainya lalu menambatkannya, dan memutuskan untuk mencari sumber aroma itu. Ia mengintip dari pintu kuil. Tidak ada orang di dalam kuil, tetapi ada wajan yang penuh masakan. Uap panas keluar dari wajan tersebut. Aroma tersebut ternyata berasal dari makanan yang sedang dimasak di wajan. Zhang merasa heran, siapa yang memasaknya. Aroma masakan tersebut sangat lezat. Zhang Guolao pergi keluar untuk melihat-lihat, tetapi tidak terlihat seorangpun. Ia mencicipi makanan tersebut dan ternyata rasanya lezat sekali. Ia merasa sangat beruntung. Zhang Guolao memutuskan untuk menggunakan ranting sebagai sumpit, lalu ia memakan makanan itu. Sebenarnya ada cerita dibalik makanan dalam wajan tersebut. Tidak jauh dari kuil itu ada seorang guru eksentrik yang mencoba melatih diri menjadi seorang Dewa melalui latihan-latihan fisik. Pada suatu hari seorang muridnya memberitahu bahwa ada seorang anak dari tempat yang tidak berpenghuni di dekat sini bermain bersama dirinya setiap hari. Guru tersebut kegirangan. Ia yakin bahwa anak tersebut adalah roh tanaman shouwu. Barang siapa yang memakannya akan menjadi Dewa. Karenanya ia mencari jalan untuk melacak tanaman tersebut dengan menggunakan jarum dan benang merah. Ia memegang ujung benang yang satu, dan meminta muridnya untuk menempelkan jarum yang terikat dengan ujung benang yang lain pada pakaian anak itu. Hari berikutnya, anak itu muncul lagi dan bermain-main bersama sang murid. Murid itu melakukan yang diperintahkan gurunya, memasukkan jarum yang dibawanya ke dalam baju anak kecil tersebut saat anak kecil itu sedang lengah. Keesokan harinya, sang guru pergi menelusuri benang merah untuk menemukan tempat roh shouwu itu. Di belakang kuil, dia menemukan tanaman shouwu. Ia menggalinya. Muncul sebuah shouwu yang besar sekali. Sang guru tidak ingin orang lain mengetahuinya, oleh karena itu ia memasak pohon tersebut di dalam kuil untuk ia nikmati sendiri. Tetapi sang guru lupa membawa peralatan makan, mangkuk dan sumpit, sehingga ia pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia berpapasan dengan seorang temannya yang mengundang dirinya ke rumah sang teman untuk menuliskan syair-syair bagi upacara pernikahan. Setelah menulis syair, temannya menjamu minum arak. Sementara itu di kuil, Zhang Guolao sedang menikmati hidangannya. Makanan yang dimakan sangat menyegarkan. Karena makanan sangat banyak, Zhang Guolao tidak dapat menghabiskannya. Keledainya mulai menendang-nendang dan meringkik, Zhang baru sadar bahwa keledainya juga sudah lapar. Ia pun memberikan sebagian makanan tersebut. Setelah keledainya selesai makan, ia membuang sisanya ke tembok. Pada saat Zhang akan berangkat, ia melihat seorang laki-laki yang berjalan terburu-buru ke arahnya dengan marah-marah. Zhang ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Zhang Guolao segera menaiki keledainya dan melarikannya. Pada saat berlari, tiba-tiba sang keledai naik ke udara dan mulai terbang. Semakin lama keledai itu terbang semakin tinggi dan Zhang berada tinggi di angkasa meninggalkan guru itu. Tembok kuil yang disiram sisa makanan menjadi keras seperti besi dan berdiri dengan megahnya. Tangkai-tangkai yang dipakai Zhang sebagai sumpit, tumbuh menjadi sepasang pohon yang tinggi dan dikenal sebagai "Pohon Guolao". Orang-orang lalu membangun kembali kuil itu dan menamakannya "Kuil Guolao". |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kerahasiaan - Pernyataan Pelayanan - Tentang Kami - Hubungi Kami Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi halaman ini tanpa ijin dari SiuTao dan mencantumkan SiuTao (http://www.siutao.com) sebagai sumber. Copyright © 2000 - 2008 SiuTao. All rights reserved. |