|
|
Halaman Depan > Dewa Dewi > Ba Xian > Jembatan Tempat Melihat Dewa Oleh: Cinthia Pada suatu ketika, wabah penyakit melanda Hangzhou. Banyak orang menderita luka aneh yang menimbulkan rasa nyeri di sekujur tubuh, dan tidak ada satu obat pun yang berhasil menyembuhkan penyakit tersebut. Para penduduk mencari pengobatan ke merata tempat, para tabib dan toko obat, namun tiada hasil. Sebaliknya, toko-toko obat memanfaatkan kesempatan tersebut dan memperoleh keuntungan besar. Kebetulan Li Tieguai mengetahui wabah tersebut. Li kemudian menjelma sebagai seorang tabib yang pincang dan pergi ke Hangzhou sambil menggendong sebuah labu di punggungnya. Sambil memegang payung besar, ia memajang sebuah kotak obat tua yang sudah rusak di dekat sebuah jembatan di Gulou. Dalam kotak obat tua tersebut terdapat obat yang dibuat Li untuk menyembuhkan wabah yang sedang melanda, dan diberikan secara cuma-cuma. Karena tampak miskin, orang-orang kaya tidak ada yang bersedia meminta pertolongan Li. Ada seorang laki-laki miskin yang menderita luka aneh itu pada kakinya datang ke "Tabib Li" untuk menghemat uang. Setelah menggunakan obat dari Li, luka aneh laki-laki tersebut hilang secara berangsur-angsur dan dalam waktu tiga hari sudah sembuh. Kabar obat ini segera tersebar luas. Pada mulanya hanya orang-orang miskin yang datang meminta pertolongan, dan Li terus memberikan obat tersebut secara gratis. Kemudian orang-orang kaya mulai berdatangan. Li menetapkan harga 10 tail perak bagi mereka. Semua orang yang memakai obat itu, baik orang miskin maupun orang kaya, dapat sembuh dari penyakit. Kepandaian Li menggemparkan Hangzhou, dan Li mendapat gelar "Sai Huatuo". Sayangnya para pedagang obat di Hangzhou merasa iri dan tidak suka atas keberhasilan Li. Mereka bersekongkol untuk mengusir Li. Para pedagang obat mengumpulkan uang hingga 1000 tail perak dan memberikan uang tersebut kepada hakim di Hangzhou yang korup. Bersamaan dengan pemberian uang tersebut, para pedagang mengajukan tuntutan palsu dengan menuduh Li menjual obat palsu untuk memperdayakan penduduk dan mencari keuntungan sebesar mungkin. Hakim yang telah menerima uang sogokan segera memberi perintah kepada petugas pengadilan untuk menangkap Li. Di pengadilan Li tidak bersedia berlutut. Sambil memukul meja dengan balok kayu, hakim itu berkata, "Mengapa kamu tidak mau berlutut di hadapan hakim?" "Tuanku, hamba adalah orang yang pincang. Lututku sakit. Seumur hidupku aku belum pernah berlutut", jawab Li. Hakim marah dan berteriak, "Siapa namamu dan dari mana asalmu?" "Hamba tidak mempunyai nama. Orang-orang menamakan hamba Sai Huatuo. Hamba datang dari tempat asal hamba", jawab Li. "Kalau memang engkau sangat pandai hingga bergelar Sai Huatuo, mengapa engkau tidak dapat menyembuhkan kakimu yang cacat tersebut?", desak sang hakim. Pada saat itu ada yang merayap di punggung sang hakim dan terasa sangat gatal. Li menjelaskan, "Banyak orang dengan masing-masing pekerjaannya dapat menolong orang lain, tetapi tidak dapat menolong dirinya sendiri. Mengapa buruh bangunan harus tinggal di rumah kumuh dengan atap yang bocor?" "Mengapa petani kelaparan? Mengapa engkau tidak menanyakan tentang hal-hal tersebut?", tanya Li lagi. Sang hakim hanya bisa membisu. Pada saat sidang ditutup, sang hakim memberi perintah agar Li dikurung di barisan kematian. Rasa gatal di punggung sang hakim semakin menjadi, dan terlihat ada benjolan kecil. Tidak lama kemudian benjolan tersebut menjadi luka yang aneh. Penasihat hukum sang hakim memberikan usul agar sang hakim meminta bantuan Li untuk menyembuhkan lukanya, setelah itu baru dijatuhi hukuman mati. Setelah memeriksa luka sang hakim, Li memberikan obatnya. Satu malam berlalu, namun luka sang hakim bukan semakin membaik, bahkan menjadi semakin besar. "Luka itu bernama 'Luka Menusuk Hati'. Kau terkena penyakit ini karena dirimu adalah seorang pejabat yang korup. Aku tidak bisa menolongmu", Li menjelaskan. Hakim berteriak dengan marah, "Ikat dia dan penggal kepalanya!". Rasa nyeri yang diderita sang hakim semakin parah dan pada akhirnya dia meninggal karena penyakit tersebut. Sesuai dengan perintah hakim, Li dibawa ke tempat hukuman mati. Ketika para petugas pengadilan melintasi jembatan tempat dimana Li menjajakan obatnya, orang-orang menghadang di tengah jalan. Li berkata, "Saudara-saudara, karena hakim ingin mengirimku ke langit, maka aku terpaksa harus pergi sekarang." Sambil berkata demikian, Li menjatuhkan diri ke sungai. Dalam sekejap mata muncul sekumpulan awan dari sungai itu dan mengangkat tubuh Li. Awan itu naik perlahan ke angkasa. Li mengangguk-angguk dan melambaikan tangan kepada orang-orang dari atas awan. Sejak saat itu, jembatan tersebut dinamakan "Jembatan Tempat Melihat Dewa". |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kerahasiaan - Pernyataan Pelayanan - Tentang Kami - Hubungi Kami Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi halaman ini tanpa ijin dari SiuTao dan mencantumkan SiuTao (http://www.siutao.com) sebagai sumber. Copyright © 2000 - 2008 SiuTao. All rights reserved. |