Pengenalan
Ajaran & Filsafat
Kitab Suci
Dewa Dewi
Upacara & Ritual
Cabang Ilmu
Tempat Bersejarah
Tetesan
Goresan Pena
Tanya Jawab
Galeri

 
  Pengumuman
Diskusi Tao
Obrolan Bebas
Saran & Kritik

 
  Tempat Diskusi
Berita Gratis
Promosi
Link ke Kami
Sindikasi
Kanal
Bertukar Link
Links

 
  Bahasa Inggris
Forums Komunitas
Intan Dalam Debu
Kelenteng
Milis
Muditao
Tao-TSM

 
  Kerahasiaan
Pelayanan
Penghargaan
Sertifikat
Suara Anda
Tentang Kami
Hubungi Kami

 
  Dapatkan informasi terbaru langsung pada email Anda!

   Halaman Depan > Dewa Dewi > Ba Xian >
 
Ah Guang Bertemu Dewa
 
Oleh: Cinthia
 
Ah Guang adalah orang yang miskin tetapi jujur dan tulus. Jejaka ini tinggal di Bukit Bambu Emas, sebelah Gunung Tiantai.
 
Pada suatu hari di musim semi, ia pulang dari kota memikul dua keranjang garam milik penjual garam. Ketika tiba di Gunung Tiantai, ia melihat 2 orang sedang bermain catur.
 
Lelaki yang berpakaian hijau dan gemuk adalah Zhongli Quan dan yang berpakaian biru adalah Lu Dongbin. Ah Guang tidak mengenali mereka. Ia meletakkan pikulannya dan menonton mereka bermain catur.
 
Beberapa lama kemudian, Zhongli Quan mengeluarkan buah persik dari sakunya.
 
Tiba-tiba Lu Dongbin mengejutkan Zhongli Quan, "Skak!", sehingga buah persik di tangan Zhongli Quan terlempar ke belakang mengenai Ah Guang.
 
Zhongli Quan berkata, "Maaf telah mengenai anda."
 
Ah Guang menjawab, "Tidak apa-apa. Itu sebenarnya salahku. Saya sangat tertarik atas permainan catur anda sehingga berdiri terlalu dekat."
 
Ketika Ah Guang mengembalikan buah persik tersebut, Zhongli Quan berkata, "Hari sangat panas. Orang muda, jika anda tidak keberatan, makanlah buah persik itu."
 
Karena memang dirinya merasa haus, Ah Guang memakan setengah buah persik tersebut.
 
Setelah memakannya, Ah Guang merasakan aliran tenaga yang menggelora dalam dirinya.
 
Waktu Ah Guang akan membuang sisa buah persik, Lu berkata, "Jangan membuang sisa buah persik itu. Bawalah pulang dan mungkin kelak akan berguna."
 
Ah Guang asyik menonton catur hingga lupa waktu.
 
Menjelang petang, Ah Guang baru menyadari bahwa dirinya masih jauh dari rumah.
 
"Jangan cemas. Naiki saja tongkatku dan kamu akan cepat sampai di rumah", kata Zhongli Quan.
 
Semula Ah Guang tidak percaya, namun dia tetap mengikuti petunjuk Zhongli Quan.
 
Ah Guang menaikinya dan dalam sekejap ia melewati awan dengan suara angin yang terdengar di telinganya. Sebentar saja ia telah sampai di rumah.
 
Begitu diletakkan di tanah, telah tumbuh akar pada bambu itu. Batang bambu itu berubah menjadi pohon bambu emas yang berkilauan. Ketika tertiup angin, pohon bambu itu berubah menjadi rumpun bambu emas.
 
Ah Guang terkejut melihat hal tersebut, sehingga tanpa disadarinya sisa buah persik yang disimpan dipinggangnya jatuh ke tanah.
 
Dalam sekejap buah persik itu berubah menjadi lesung emas yang penuh dengan uang dan permata.
 
Ah Guang tidak tahu harus berbuat apa. Ia berpikir, "Aku suka pada kekuatan diriku sendiri untuk mencari nafkah dan tidak dapat menerima kekayaan yang datang seperti ini."
 
"Kalau bambu emas berubah menjadi bambu hijau, tentu aku dapat membuatnya menjadi perkakas. Jika lesung emas itu berubah menjadi lesung batu, maka aku dapat menggunakannya untuk menumbuk beras."
 
Saat itu juga, keduanya berubah. Rumpun bambu emas menjadi rumpun bambu hijau, lesung emas menjadi lesung batu.
 
Ah Guang menggunakan alu untuk menumbuk beras. Semakin dia menumbuk, semakin banyak beras yang diperoleh.
 
Ah Guang membagi-bagi beras itu kepada penduduk desa. Setiap kali ia menyendok beras dari lesung, lesung itu langsung penuh lagi. Orang-orang menamakannya sebagai "Lesung yang Selalu Penuh".
 
Ah Guang memiliki seorang keponakan yang bernama Ah Chong, yang dijuluki si "Tukang Malas". Mendengar kabar tentang lesung ajaib, ia datang menanyakannya.
 
Dengan polos, Ah Guang menceritakan seluruh pengalamannya.
 
Si Tukang Malas lalu mencari alasan. "Paman, engkau sudah tua. Biarlah aku yang memikul barang untukmu." Ah Guang kemudian memberikan dua buah keranjang dan sebatang pikulan.
 
Sambil memikul dua keranjang garam dari kota, Tukang Malas tiba di tempat Zhongli Quan dan Lu Dongbin yang sedang bermain catur, sesuai harapan.
 
Setelah beberapa lama, Zhongli Quan mengeluarkan buah persik.
 
Tiba-tiba Zhongli Quan dikejutkan oleh Lu Dongbin, "Skak!", sehingga buah persik yang ada terlempar ke arah Si Tukang Malas.
 
Setelah memakan buah persik itu, Si Tukang Malas menggenggam biji persik itu erat-erat.
 
Hal tersebut membuat Zhongli Quan tertawa. Ia memberikan sebatang tongkat bambu dan menyuruh Si Tukang Malas menungganginya.
 
Setibanya di rumah, tongkat bambu berubah menjadi bambu emas dan biji persik menjadi lesung emas.
 
Tukang Malas sangat girang, tetapi dia merasa tidak puas dengan lesung yang berukuran kecil itu. Ia ingin agar lesung itu menjadi lebih besar sehingga hartanya lebih banyak.
 
Tiba-tiba terdengar suara yang keras dan lesung itu lenyap tanpa bekas.
 
Si Tukang Malas menjadi bingung. Takut apabila bambu emas akan turut lenyap, maka Si Tukang Malas berusaha mencabut bambu itu untuk disembunyikan di dalam rumah.
 
Namun betapa pun ia mencoba, bambu itu tidak juga tercabut.
 
Ia memanjat dan melengkungkan pohon bambu itu dengan paksa. Tiba-tiba bambu itu patah.
 
Si Tukang Malas terlempar kira-kira 10 langkah, lalu jatuh dari punggung Bukit Bambu Emas.
 
Sejak itu, rumpun bambu dan lesung batu dapat dilihat di Bukit Bambu Emas.
 
  
 
 
Kerahasiaan - Pernyataan Pelayanan - Tentang Kami - Hubungi Kami
Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi halaman ini tanpa ijin dari SiuTao dan mencantumkan SiuTao (http://www.siutao.com) sebagai sumber.
Copyright © 2000 - 2008 SiuTao. All rights reserved.